Pengaruh
Budaya pada Perekonomian Suku Baduy
Bagi
kelangsungan hidup manusia, kebudayaan merupakan sesuatu yang penting.
Kebudayaan, yang merupakan seperangkat gagasan, carahidup, dan berbagai
kebiasaan, dikatakan tidak dapat melaksanakan tugasnya apabila tidak berhasil
menjaga kelangsungan hidup manusia. Kebudayaan bukan sesatu yang diwariskan
secara biologis, melainkan hasil belajar, maka kelangsungan hidup manusia
memerlukan proses pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi lainnya.
Kebudayaan juga merupakan bentuk adaptasi manusia terhadap lingkungannya.
Ketika lingkungan berubah, maka kebudayaan pun akan berubah.
Kebudayaan merupakan warisan leluhur yang harus dilestarikan agar tidak
tergerus oleh zaman yang semakin modern. Di Indonesia terdiri dari banyak Pulau
dan memiliki berbagai jenis kebudayaan dari Sabang sampai Merauke. Namun saat
ini sudah banyak kebudayaan yang sudah tidak digunakan lagi oleh masyarakat
terutama oleh generasi muda yang seharusnya tetap menjunjung tinggi nilai
budaya daerahnya.
Ditengah moderenisasi yang semakin meningkat, masih ada
daerah-daerah yang masih menjunjung tinggi nilai kebudayaannya. Salah satunya
yaitu suku Baduy Banten, sekelompok
masyarakat yang dikenal dengan orang “BADUY” tentu sudah tak asing lagi untuk
didengar. Suku yang mendiami daerah Banten Selatan, Jawa Barat, Indonesia.
Masyarakap Baduy terkenal akan
keteguhannya terhadap adat dari para leluhur mereka, yang apabila dilanggar
mereka akan mendapat hukuman yang sesuai dengan perbuatan yang mereka langgar. Mereka
tidak boleh mempergunakan peralatan atau sarana dari luar. Mereka hidup tanpa
menggunakan listrik, uang, dan mereka tidak mengenal sekolahan. Salah satu contoh
sarana yang mereka buat tanpa bantuan dari peralatan luar adalah Jembatan
Bambu. Jembatan ini dibuat tanpa menggunakan paku, untuk mengikat batang bambu
mereka menggunakan ijuk, dan untuk menopang pondasi jembatan digunakan
pohon-pohon besar yang tumbuh di tepi sungai. Kamar mandi yang digunakan pun
masih sangat tradisional yaitu di sungai, dari mandi sampai mencuci pakaian pun
dilakukan di sungai.
Suku Baduy terdiri dari dua
bagian yaitu suku Baduy Dalam dan suku Baduy Luar. Suku Baduy Luar , yang mengunjungi
masih bisa menggunakan alat komunikasi seperti Handphone. Sedangkan suku Baduy
Dalam tinggal di pedalaman hutan dan masih terisolir dan belum masuk kebudayaan
luar. Kebudayaan mereka masih asli, dan sulit sekali masyarakat lainnya yang
ingin masuk apalagi tinggal bersama suku Baduy Dalam. Selain itu tidak bisa
sembarangan orang masuk ke wilayah suku Baduy Dalam. Untuk mencapai wilayah
Baduy dalam harus diperlukan penunjuk jalan dan ijin dari pimpinan adatnya
serta harus mematuhi ketentuan yang sangat berat seperti di larang membawa
kamera. Jarak yang harus ditempuh untuk menuju Baduy Luar pun cukup jauh dan
hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki menelusuri hutan dan sungai.
Orang Baduy Dalam terkenal
teguh dalam tradisinya. Mereka selalu berpakaian warna putih dengan kain ikat
kepala serta golok. Semua perlengkapan ini mereka buat sendiri dengan tangan.
Pakaian mereka tidak berkerah dan berkancing, mereka juga tidak beralas kaki.
Mereka pergi kemana-mana hanya berjalan kaki tanpa alas dan tidak pernah
membawa uang, jadi mereka tidak pernah menggunakan kendaraan. Masyarakat luar
sulit sekali masuk wilayah Baduy dalam apa lagi mengambil fotonya. Ada semacam
ketentuan tidak tertulis bahwa ras keturunan Mongoloid, Negroid dan Kaukasoid
tidak boleh masuk ke wilayah Baduy Dalam. Jika semua ketentuan adat ini di
langgar maka akan kena getahnya yang disebut kuwalat atau pamali adalah
suku Baduy sendiri. Kepercayaan mereka adalah Sunda Wiwitan, mereka
tidak mengenal sekolah, huruf yang mereka kenal adalah Aksara Hanacara
dan bahasanya Sunda.
Baduy luar atau biasanya
mereka menyebutnya Urang Panamping. Cirinya, selalu berpakaian hitam
dengan ikat kepala warna hitam bermotif biru. Sedangkan orang Baduy dalam
memiliki pakaian khas berwarna putih dengan celana hitam serta ikat kepala
berwarna putih. Sedangkan wanita baik di Baduy dalam maupun luar memiliki ciri
pakaian yang hampir sama berupa kebaya 'karempong'.
Mata pencaharian utama
masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma dan juga
mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan
di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan. Hasil pertanian
mereka berupa beras bisanya mereka simpan di lumbung padinya (Leuit) yang ada
di setiap desa. Selain beras meraka juga membuat kerajinan tangan seperti tas
koja yang bahannya terbuat dari kulit kayu yang di anyam, gelang tangan,
cincin khas Baduy. Disamping itu mereka membuat kainnya sendiri sebagai bahan
pakaian dan ikat kepala dengan cara menenun.Selain itu mereka
Masyarakat Baduy sejak dahulu kala hingga saat
ini secara turun temurun mempunyai kegiatan ekonomi yang berbeda dengan
masyarakat Banten pada
umumnya. Mereka menanam padi dengan cara berladang (ngahuma) bukan
dengan menciptakan sawah-sawah. Baduy juga tidak memelihara hewan berkaki empat
seperti Kerbau atau kambing, yang biasa menjadi hewan piaraan orang Banten.
Meskipun hutan sebenarnya
merupakan sumber daya ekonomi, namun bagi masyarakat Baduy terlarang untuk
memanfaatkan hutan untuk kepentingan ekonomi, seperti misalnya menebang kayu.
Yang mereka manfaatkan dari hasil hutan hanyalah sebatas keperluan, misalnya
untuk membuat rumah dan mengambil air nila. Lahan pertanian ini menjadi faktor
produksi utama yang menopang kehidupan masyarakat Baduy. Orang Baduy tidak bisa
menguasai atau memiliki tanah atau lahan ini, apalagi memindahtangankan atau
menukarkannya dengan uang kertas.
Masyarakat Baduy Faktor
Produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh ‘negara.’
Anggota masyarakat Baduy hanya boleh mengolah dan memanfaatkan lahan tersebut
untuk keperluan hidupnya sehari-hari. Dari lahan pertanian ini mereka menanam
padi (huma) dan tanaman holtikultura lainnya seperti pisang dan sayur-sayuran. Padi
Huma merupakan tanaman ekslusif Baduy. Hasil panen yang diperoleh sebagian
mereka konsumsi, sebagian mereka simpan dalam lumbung padi. Lumbung Padi di
Baduy berderet-deret. Semua lumbung itu penuh dengan padi. Padi yang mereka
simpan dalam lumbung ini tidak akan pernah mereka jual. Mereka hanya boleh
menjual hasil palawija seperti pisang ke pasar dan uangnya mereka belikan beras
untuk dikonsumsi. Dengan cara demikian, masyarakat Baduy memiliki sediaan
pangan yang selalu mencukupi semua anggota masyarakat Baduy.
Jadi, meskipun masyarakat
Baduy masih menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaannya dan jauh dari
moderenisasi masih bisa memenuhi kebutuhan hidupnya seperti masyarakat pada
umumnya yang saat ini kebanyakan tidak bisa hidup tanpa teknologi. Bahkan masyarakat
Baduy sangat memperdulikan lingkungan sekitarnya yaitu hutan dengan tidak
menebang pohon sembarangan.